“Tolong!
Tolong”, Teriak seorang ibu dan anak dengan napas yang tersengal-sengal. Rumah
kecil dan sederhana mereka kini sedang asik dilahap oleh api yang terus
membesar tak kunjung padam. Para warga sekitar rumah mereka berhamburan keluar
sambil membawa ember berisi air. Semua warga terlihat sangat sibuk. Banyak
diantara mereka yang saling bergotong-royong mengguyur rumah terbakar itu
dengan peralatan sederhana, sedangkan yang lainnya sibuk merekam kejadian
kebakaran dan berharap cemas semoga api tidak merambat lebih jauh ke rumah
warga yang lainnya.
Tak
lama kemudian, pemadam kebakaran sampai dilokasi kejadian dan langsung
mengevakuasi para korban pemilik rumah. Kebakaran mungkin memang sebuah
peristiwa yang wajar saat ini, namun tetap saja hal tersebut akan selalu
menjadi peristiwa yang membahayakan hingga akhir zaman. Setelah satu jam
lamanya para pemadam kebakaran berusaha memadamkan api, akhirnya api pun
berhasil dipadamkan.
“Kita
harus segera membawa mereka ke rumah sakit sekarang!” Ucap salah satu tim
pemadam kebakaran.
Suasana
di daerah tersebut menjadi riuh penuh bercampur aduk antara suara mobil pemadam
kebakaran, mobil polisi, dan ambulan. Para korban kebakaran pun langsung dibawa
ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Selama
perjalanan, Karina si bocah kecil berusia 9 tahun tampak kebingungan. Ia
melihat semua orang dewasa di sekitarnya terlalu sibuk untuk menjawab semua
kebingungan yang dirasakannya. Saat ini ia sedang menaiki ambulan bersama
ibunya yang terus menangis. Bagaimana tidak menangis, suami dari ibu Karina
kini terbaring lemah dengan luka bakar hampir disekujur tubuhnya, sedangkan
Karina dan ibunya hanya mengalami sedikit sesak napas akibat terlalu banyak
menghirup asap.
“Bu,
apa Ayah akan baik-baik saja?”“Ibu
juga tidak tahu nak, doakan saja yang terbaik untuk ayah ya”
Dua
bulan berlalu setelah kejadian rumah yang terbakar. Kini semua harta benda
keluarga Karina sudah habis menjadi abu. Kondisi kehidupan keluarga mereka
semakin buruk disebabkan ayah Karina meninggal dunia. Karina dan ibunya
terpaksa tinggal di rumah adik ibu Karina di daerah kumuh di pinggiran kota,
mba Ani namanya. Rumah mba Ani tidak lebih baik dari rumah Karina yang dulu ia
tempati. Rumah mba Ani terlihat mengalami kerusakan di beberapa dinding dan
atapnnya. Maklum saja lah, mba Ani hanya seorang tukang cuci dan suaminya mas
Tono hanyalah pekerja buruh di salah satu pabrik sepatu di dekat rumahnya.
Karina pun yang saat ini duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar harus
berhenti melanjutkan pendidikannya sebab tak punya biaya. Memang SD negeri
diberikan bantuan dana gratis oleh pemerintah. Tapi sejak insiden itu, semua
buku, peralatan sekolah, dan seragamnya ludes terbakar tak ada yang tersisa.
Boro-boro untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari pun tak ada uang. Lalu
bagaimana dengan ibu Karina? Ia masih terlalu sedih untuk mencari pekerjaan. Ia
hanya membantu mba Ani mencuci pakaian, itu pun kadang-kadang.
“Mba,
bukannya saya nggak ngerti perasaan mba Santi tapi mba harus cari pekerjaan
sekarang. Kasihan Karina kan mba. Ia butuh biaya untuk sekolah lagi.”“Iya
kerja apa? Aku ini hanya lulusan SMA, tak punya pengalaman kerja. Umurku juga
sudah tidak muda lagi. Pasti sulit cari pekerjaan”“Iya
terserah mba Santi yang penting jangan merepotkan kami. Saya ini cuma tukang
cuci yang punya suami seorang buruh pabrik. Jangan harap upah kami cukup untuk
membiayai kalian.” Kata mba Ani dengan nada yang sedikit tinggi tanpa ada
senyuman.“Maafkan
aku, tapi...”“Kami
hidup berdua saja judah susah, ditambah kamu dan anakmu tinggal disini makin
susahlah kami.”
Mba
Santi alias ibunya Karina merasa terkejut mendengar perkataan adiknya. Memang
mba Ani itu hanya adik tiri ibunya Karina. Tapi tak disangka ia akan berkata
begitu tajamnya kepada kakaknya sendiri. Selain sensitif, mba Ani dari sejak
remaja diketahui mengidap lonjakan emosional yang sering berubah-ubah, kadang
ia terlihat begitu ramah, kadang juga ia teerlihat suka marah-marah. Karina
yang sedari tadi mendengar pembicaraan mba Ani dan ibunya lagi-lagi bingung dan
ikut sedih.
Setelah
pembicaraan itu berakhir mba Santi pun pergi ke luar rumah, entah kemana. Saat
Karina melihat hal itu, ia pun memanggil ibunya, “Ibu! Bu, mau kemana?”“Kamu
tunggu di rumah saja ya, ibu hanya keluar sebentar. Nanti sore juga sudah
pulang. Jangan nakal dan bikin bibi mu marah ya.”“Aku
mau ikut ibu aja, disini aku bosan.”“Tunggu
saja di rumah. kalau kamu ikut terus kecapean, nanti ibu yang repot.”“ya
udah deh bu.”
Matahari
mulai tenggelam dan langit sudah berubah warna menjadi semburat kekuningan.
Suasana senja sudah begitu terasa, namun Ibunya Karina masih belum pulang.
Karina yang dari tadi menunggunya di teras depan mulai lelah dan kelaparan.
Sejak tadi siang sehabis ia menguping pembicaraan mba Ani dan ibunya, ia tidak
berani makan sampai saat ini, kecuali jika ibunya yang menyiapkan makanan.
“Hey
Karina! Ayo cepat masuk ke rumah, ini sudah magrib.”“Aku
mau tunggu ibu sebentar disini bi.”“Tunggunya
di dalem aja, ayo masuk! Kamu belum makan kan? Ayo makan dulu, bi Ani udah
masak nih”“Oh
iya udah deh aku masuk.”
Karina
pun masuk ke rumah sambil tetap menatap ke pintu, menanti ibunya pulang. Karina
merasa senang karena malam ini dia disuguhkan ayam goreng favoritnya. DI meja
sudah tersedia nasi, ayam goreng, tumis kangkung, dan segelas air putih.
Mungkin makanan itu terlihat sederhana, tapi tidak ada makanan yang tidak enak
saat perut sedang lapar. Karina yang duduk di kursi kayu langsung melahap semua
makanan yang ada di piringnya. Sejenak ia lupa kalau ibunya belum pulang. Ia
juga merasa agak aneh, kenapa mba Ani bisa menjadi begitu ramah kepada Karina,
padahal tadi siang mba Ani sangat ketus melihat wajah ibunya Karina.
Setelah
makan, Karina merasa sangat kekenyangan dan memutuskan untuk pergi ke kamar
yang sudah di siapkan mba Ani untuk ia dan ibunya. Kamarnya terbilang kecil,
hanya ada satu kasur kapuk kecil dan lemari yang terbuat dari plastik.
Dindingnya di cat warna putih, tapi sepertinya sudah lama tidak di cat lagi
karena warnanya mulai pudar. Disana ia hanya terbaring sambil merangkul guling
dan berpikir, kemana perginya sang ibu. Selain itu juga ia berpikir, masih
bisakah ia melanjutkan sekolah dan bermain lagi bersama teman-temannya? Terus
menunggu dalam ruang yang sunyi membuatnya bosan hingga akhirnya ia tertidur.
Keesokan
harinya saat matahari mulai memancarkan sinarnya melalui celah-celah jendela, Karina
terbangun dari tidurnya yang lelap. Setelah mulai sadar, Karina mendengar suara
ibunya yang sedang berbincang-bincang dengan mas Tono dan mba Ani. Dengan
segera Karina keluar dari kamarnya
menghampiri ibunya.
“Ibu!
Kemarin habis dari mana aja? Aku nunggu sampai ketiduran.”“Ibu
habis cari kerja. Kamu duduk disini ya.” Ucap sang ibu sambil menunjuk kursi di
sebelah kanannya.“Ada
yang mau aku bicarakan kepada kalian semua. Jadi kemarin aku jalan-jalan
keliling daerah rumah ini, lalu aku ketemu ibu Rodiah. Kalian tahu ibu Rodiah?”“Oh
yang tinggal di ujung dekat jembatan sungai ya?” Tanya mas Tono.“Iya
betul. Saat aku lewat rumahnya, ada tulisan kalau dia itu penyalur TKW ke Malaysia.
Aku kemarin sudah tanya-tanya dan aku akan bekerja disana secepatnya.”“mba
Santi mau kerja jadi TKW? Jadi pembantu disini saja sudah susah, kalau bekerja
di luar negeri itu lebih berbahaya mba. Saya takut nanti mba kenapa-kenapa.”
Kata mba Ani dengan ekspresi cemas.“Tapi
disana gajinya lebih besar, pasti bisa bantu biaya kamu dan Karina. Jadi aku
mau kerja saja disana. Bu Rodiah juga bilang, kebanyakan orang yang ia salurkan tidak pernah disiksa oleh
majikan, pasti aman.”Karina
mulai berpikir jika ibunya pergi ke Malaysia, apa ia harus ikut pergi bersama
ibunya? Hidup ini mulai terasa sulit untuk bocah usia sembilan tahun.“Jadi
aku minta selama aku kerja di Malaysia, aku titip Karina. Nanti segala
kebutuhannya akan aku kirimkan setiap bulan.”“Oh
iya maaf mba Santi, sekarang sudah hampir jam 8. Saya harus pergi kerja
sekarang. Kalau menurut saya sih, mba Santi pikir-pikir dulu. Maaf mba saya
pergi duluan, silahkan lanjut ngobrol sama Ani saja.” Mas Tono langsung
merapihkan pakaiannya dan siap bekerja.
Karina
berjalan ke teras depan dan diam, tak tau mau bilang apa. Ia merasa semuanya
sudah benar-benar berubah. Dulu setiap pagi, Karina biasa membantu ibunya
menyiapkan teh hangat untuk Ayahnya. Setelah itu, Ayahnya akan mengantar Karina
ke sekolah menggunakan motor bebek kesayangan ayahnya. Setiap hari minggu, ia
dan kedua orang tuanya akan pergi ke kebun binatang atau bermain di taman kota.
Semuanya terasa sangat mudah dan bahagia. Tapi mengapa sekarang semuanya
berubah dengan cepat. Tak ada lagi Ayah yang selalu tersenyum padanya, tak ada
lagi yang namanya sekolah dan bersenang-senang. Ibu seakan terlalu sibuk
mencari uang dan ia hanya diam di rumah bibinya.
Tiga
bulan berlalu begitu cepat. Karina sudah mulai bersekolah lagi dan ibunya kini
sudah merantau ke Malaysia hanya untuk mencari rezeki. Kehidupan mulai berjalan
seperti biasa hingga suatu hari mba Ani berteriak-teriak sambil melempar
barang-barang disekitarnya.
“Aaaah!Haaah!”“Ya
ampun bi Ani kenapa?” ucap Karina setengah perihatin dan ketakutan.“Pergi
kamu! Pergi sana!” teriak mba Ani seperti orang kesetanan.“Bi
Ani sabar ya. Bi Ani duduk dulu aja, Karina ambil minum dulu buat bi Ani.”“Berisik!
Diam kamu jangan banyak omong!”
Siang
itu suasana di sekitar rumah mba Ani cukup sepi, banyak orang yang pergi
bekerja, hanya sebagian kecil orang yang tinggal diam di rumah. Kemarahan mba
Ani semakin menjadi-jadi tanpa alasan. Tidak ada satupun warga termasuk Karina
yang tahu kalau mba Ani itu mengidap penyakit lonjakan emosional yang
berubah-ubah atau dalam bahasa kedokteran biasa
disebut bipolar disorder. Penyakit
ini merupakan salah satu penyakit psikologi yang berbahaya karena lonjakan
emosiaonal tertentu dapat menyebabkan depresi dan berpotensi membahayakan
dirinya sendiri dan orang lain.
Karina
datang dari dapur membawa segelas air putih untuk menenangkan mba Ani. Tapi mba
Ani malah melemparkan gelas berisi air putih itu seakan itu hanya benda yang
tidak berarti. Dengan lonjakan emosionalnya, mba Ani malah mencekik leher
Karina dengan sekuat tenaga seakan ia sedang menyalurkan amarahnya kepada
Karina.
0 komentar