Cerpen : Kisah Karina

Juni 21, 2017

source : pinterest


“Tolong! Tolong”, Teriak seorang ibu dan anak dengan napas yang tersengal-sengal. Rumah kecil dan sederhana mereka kini sedang asik dilahap oleh api yang terus membesar tak kunjung padam. Para warga sekitar rumah mereka berhamburan keluar sambil membawa ember berisi air. Semua warga terlihat sangat sibuk. Banyak diantara mereka yang saling bergotong-royong mengguyur rumah terbakar itu dengan peralatan sederhana, sedangkan yang lainnya sibuk merekam kejadian kebakaran dan berharap cemas semoga api tidak merambat lebih jauh ke rumah warga yang lainnya.

Tak lama kemudian, pemadam kebakaran sampai dilokasi kejadian dan langsung mengevakuasi para korban pemilik rumah. Kebakaran mungkin memang sebuah peristiwa yang wajar saat ini, namun tetap saja hal tersebut akan selalu menjadi peristiwa yang membahayakan hingga akhir zaman. Setelah satu jam lamanya para pemadam kebakaran berusaha memadamkan api, akhirnya api pun berhasil dipadamkan.

“Kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit sekarang!” Ucap salah satu tim pemadam kebakaran.

Suasana di daerah tersebut menjadi riuh penuh bercampur aduk antara suara mobil pemadam kebakaran, mobil polisi, dan ambulan. Para korban kebakaran pun langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Selama perjalanan, Karina si bocah kecil berusia 9 tahun tampak kebingungan. Ia melihat semua orang dewasa di sekitarnya terlalu sibuk untuk menjawab semua kebingungan yang dirasakannya. Saat ini ia sedang menaiki ambulan bersama ibunya yang terus menangis. Bagaimana tidak menangis, suami dari ibu Karina kini terbaring lemah dengan luka bakar hampir disekujur tubuhnya, sedangkan Karina dan ibunya hanya mengalami sedikit sesak napas akibat terlalu banyak menghirup asap.

“Bu, apa Ayah akan baik-baik saja?”“Ibu juga tidak tahu nak, doakan saja yang terbaik untuk ayah ya”

Dua bulan berlalu setelah kejadian rumah yang terbakar. Kini semua harta benda keluarga Karina sudah habis menjadi abu. Kondisi kehidupan keluarga mereka semakin buruk disebabkan ayah Karina meninggal dunia. Karina dan ibunya terpaksa tinggal di rumah adik ibu Karina di daerah kumuh di pinggiran kota, mba Ani namanya. Rumah mba Ani tidak lebih baik dari rumah Karina yang dulu ia tempati. Rumah mba Ani terlihat mengalami kerusakan di beberapa dinding dan atapnnya. Maklum saja lah, mba Ani hanya seorang tukang cuci dan suaminya mas Tono hanyalah pekerja buruh di salah satu pabrik sepatu di dekat rumahnya. Karina pun yang saat ini duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar harus berhenti melanjutkan pendidikannya sebab tak punya biaya. Memang SD negeri diberikan bantuan dana gratis oleh pemerintah. Tapi sejak insiden itu, semua buku, peralatan sekolah, dan seragamnya ludes terbakar tak ada yang tersisa. Boro-boro untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari pun tak ada uang. Lalu bagaimana dengan ibu Karina? Ia masih terlalu sedih untuk mencari pekerjaan. Ia hanya membantu mba Ani mencuci pakaian, itu pun kadang-kadang.

“Mba, bukannya saya nggak ngerti perasaan mba Santi tapi mba harus cari pekerjaan sekarang. Kasihan Karina kan mba. Ia butuh biaya untuk sekolah lagi.”“Iya kerja apa? Aku ini hanya lulusan SMA, tak punya pengalaman kerja. Umurku juga sudah tidak muda lagi. Pasti sulit cari pekerjaan”“Iya terserah mba Santi yang penting jangan merepotkan kami. Saya ini cuma tukang cuci yang punya suami seorang buruh pabrik. Jangan harap upah kami cukup untuk membiayai kalian.” Kata mba Ani dengan nada yang sedikit tinggi tanpa ada senyuman.“Maafkan aku, tapi...”“Kami hidup berdua saja judah susah, ditambah kamu dan anakmu tinggal disini makin susahlah kami.”

Mba Santi alias ibunya Karina merasa terkejut mendengar perkataan adiknya. Memang mba Ani itu hanya adik tiri ibunya Karina. Tapi tak disangka ia akan berkata begitu tajamnya kepada kakaknya sendiri. Selain sensitif, mba Ani dari sejak remaja diketahui mengidap lonjakan emosional yang sering berubah-ubah, kadang ia terlihat begitu ramah, kadang juga ia teerlihat suka marah-marah. Karina yang sedari tadi mendengar pembicaraan mba Ani dan ibunya lagi-lagi bingung dan ikut sedih.

Setelah pembicaraan itu berakhir mba Santi pun pergi ke luar rumah, entah kemana. Saat Karina melihat hal itu, ia pun memanggil ibunya, “Ibu! Bu, mau kemana?”“Kamu tunggu di rumah saja ya, ibu hanya keluar sebentar. Nanti sore juga sudah pulang. Jangan nakal dan bikin bibi mu marah ya.”“Aku mau ikut ibu aja, disini aku bosan.”“Tunggu saja di rumah. kalau kamu ikut terus kecapean, nanti ibu yang repot.”“ya udah deh bu.”

Matahari mulai tenggelam dan langit sudah berubah warna menjadi semburat kekuningan. Suasana senja sudah begitu terasa, namun Ibunya Karina masih belum pulang. Karina yang dari tadi menunggunya di teras depan mulai lelah dan kelaparan. Sejak tadi siang sehabis ia menguping pembicaraan mba Ani dan ibunya, ia tidak berani makan sampai saat ini, kecuali jika ibunya yang menyiapkan makanan.

“Hey Karina! Ayo cepat masuk ke rumah, ini sudah magrib.”“Aku mau tunggu ibu sebentar disini bi.”“Tunggunya di dalem aja, ayo masuk! Kamu belum makan kan? Ayo makan dulu, bi Ani udah masak nih”“Oh iya udah deh aku masuk.”

Karina pun masuk ke rumah sambil tetap menatap ke pintu, menanti ibunya pulang. Karina merasa senang karena malam ini dia disuguhkan ayam goreng favoritnya. DI meja sudah tersedia nasi, ayam goreng, tumis kangkung, dan segelas air putih. Mungkin makanan itu terlihat sederhana, tapi tidak ada makanan yang tidak enak saat perut sedang lapar. Karina yang duduk di kursi kayu langsung melahap semua makanan yang ada di piringnya. Sejenak ia lupa kalau ibunya belum pulang. Ia juga merasa agak aneh, kenapa mba Ani bisa menjadi begitu ramah kepada Karina, padahal tadi siang mba Ani sangat ketus melihat wajah ibunya Karina.

Setelah makan, Karina merasa sangat kekenyangan dan memutuskan untuk pergi ke kamar yang sudah di siapkan mba Ani untuk ia dan ibunya. Kamarnya terbilang kecil, hanya ada satu kasur kapuk kecil dan lemari yang terbuat dari plastik. Dindingnya di cat warna putih, tapi sepertinya sudah lama tidak di cat lagi karena warnanya mulai pudar. Disana ia hanya terbaring sambil merangkul guling dan berpikir, kemana perginya sang ibu. Selain itu juga ia berpikir, masih bisakah ia melanjutkan sekolah dan bermain lagi bersama teman-temannya? Terus menunggu dalam ruang yang sunyi membuatnya bosan hingga akhirnya ia tertidur.

Keesokan harinya saat matahari mulai memancarkan sinarnya melalui celah-celah jendela, Karina terbangun dari tidurnya yang lelap. Setelah mulai sadar, Karina mendengar suara ibunya yang sedang berbincang-bincang dengan mas Tono dan mba Ani. Dengan segera Karina keluar dari kamarnya  menghampiri ibunya.

“Ibu! Kemarin habis dari mana aja? Aku nunggu sampai ketiduran.”“Ibu habis cari kerja. Kamu duduk disini ya.” Ucap sang ibu sambil menunjuk kursi di sebelah kanannya.“Ada yang mau aku bicarakan kepada kalian semua. Jadi kemarin aku jalan-jalan keliling daerah rumah ini, lalu aku ketemu ibu Rodiah. Kalian tahu ibu Rodiah?”“Oh yang tinggal di ujung dekat jembatan sungai ya?” Tanya mas Tono.“Iya betul. Saat aku lewat rumahnya, ada tulisan kalau dia itu penyalur TKW ke Malaysia. Aku kemarin sudah tanya-tanya dan aku akan bekerja disana secepatnya.”“mba Santi mau kerja jadi TKW? Jadi pembantu disini saja sudah susah, kalau bekerja di luar negeri itu lebih berbahaya mba. Saya takut nanti mba kenapa-kenapa.” Kata mba Ani dengan ekspresi cemas.“Tapi disana gajinya lebih besar, pasti bisa bantu biaya kamu dan Karina. Jadi aku mau kerja saja disana. Bu Rodiah juga bilang, kebanyakan orang  yang ia salurkan tidak pernah disiksa oleh majikan, pasti aman.”Karina mulai berpikir jika ibunya pergi ke Malaysia, apa ia harus ikut pergi bersama ibunya? Hidup ini mulai terasa sulit untuk bocah usia sembilan tahun.“Jadi aku minta selama aku kerja di Malaysia, aku titip Karina. Nanti segala kebutuhannya akan aku kirimkan setiap bulan.”“Oh iya maaf mba Santi, sekarang sudah hampir jam 8. Saya harus pergi kerja sekarang. Kalau menurut saya sih, mba Santi pikir-pikir dulu. Maaf mba saya pergi duluan, silahkan lanjut ngobrol sama Ani saja.” Mas Tono langsung merapihkan pakaiannya dan siap bekerja.

Karina berjalan ke teras depan dan diam, tak tau mau bilang apa. Ia merasa semuanya sudah benar-benar berubah. Dulu setiap pagi, Karina biasa membantu ibunya menyiapkan teh hangat untuk Ayahnya. Setelah itu, Ayahnya akan mengantar Karina ke sekolah menggunakan motor bebek kesayangan ayahnya. Setiap hari minggu, ia dan kedua orang tuanya akan pergi ke kebun binatang atau bermain di taman kota. Semuanya terasa sangat mudah dan bahagia. Tapi mengapa sekarang semuanya berubah dengan cepat. Tak ada lagi Ayah yang selalu tersenyum padanya, tak ada lagi yang namanya sekolah dan bersenang-senang. Ibu seakan terlalu sibuk mencari uang dan ia hanya diam di rumah bibinya.

Tiga bulan berlalu begitu cepat. Karina sudah mulai bersekolah lagi dan ibunya kini sudah merantau ke Malaysia hanya untuk mencari rezeki. Kehidupan mulai berjalan seperti biasa hingga suatu hari mba Ani berteriak-teriak sambil melempar barang-barang disekitarnya.

“Aaaah!Haaah!”“Ya ampun bi Ani kenapa?” ucap Karina setengah perihatin dan ketakutan.“Pergi kamu! Pergi sana!” teriak mba Ani seperti orang kesetanan.“Bi Ani sabar ya. Bi Ani duduk dulu aja, Karina ambil minum dulu buat bi Ani.”“Berisik! Diam kamu jangan banyak omong!”

Siang itu suasana di sekitar rumah mba Ani cukup sepi, banyak orang yang pergi bekerja, hanya sebagian kecil orang yang tinggal diam di rumah. Kemarahan mba Ani semakin menjadi-jadi tanpa alasan. Tidak ada satupun warga termasuk Karina yang tahu kalau mba Ani itu mengidap penyakit lonjakan emosional yang berubah-ubah atau dalam bahasa kedokteran biasa  disebut bipolar disorder. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit psikologi yang berbahaya karena lonjakan emosiaonal tertentu dapat menyebabkan depresi dan berpotensi membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Karina datang dari dapur membawa segelas air putih untuk menenangkan mba Ani. Tapi mba Ani malah melemparkan gelas berisi air putih itu seakan itu hanya benda yang tidak berarti. Dengan lonjakan emosionalnya, mba Ani malah mencekik leher Karina dengan sekuat tenaga seakan ia sedang menyalurkan amarahnya kepada Karina.

The End


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images